KOMUNIKASI PROFETIK DAN SELUK BELUKNYA
Latar Belakang Munculnya Komunikasi Profetik
Lahirnya Komunikasi Profetik dilatarbelakangi oleh pergantian IAIN (Institut Agama Islam Negeri) menjadi UIN (Universitas Islam Negeri). UIN bertujuan mengintegrasikan serta menginterkoneksikan agama dan ilmu pengetahuan (dalam hal ini komunikasi).
Pembahasan Komunikasi Profetik yang bertujuan
mempertemukan agama dan ilmu pengetahuan terlebih dahulu diawali dengan
pembahasan tentang bagaimana fenomena komunikasi di Barat dan bagaimana
kontribusi Islam terhadap bidang keilmuan yang sama.
Antara Barat dan Islam selalu diliputi prasangka dan
rasa saling curiga. Nyatanya, prasangka dan rasa saling curiga itu merupakan
dampak dari antara kedua belah kubu. Menurut Majid Tehranian, kesalahpahaman
tersebut antara lain: Barat salah paham atas Islam, Islam salah paham atas
Barat, Barat salah paham atas Barat, dan Islam salah paham atas Islam.
1. Barat salah paham pada Islam
Kesalahpahaman
Barat terhadap Islam terjadi karena adanya sifat tidak menghargai dan merasa
superior. Banyak tokoh ilmuwan Barat yang tertarik terhadap kajian Islam
(disebut kaum orientalis). Namun, ilmu keislaman yang mereka pelajari tidak
digunakan untuk membandingkannya dengan tradisi keilmuan Barat, melainkan
digunakan untuk memojokkan keilmuan Islam. Salah satu tokoh orientalis tersebut
yakni Snouck Hugronje.
2. Islam salah paham pada Barat
Pada
dasarnya, agama Islam mengajarkan untuk tidak berburuk sangka. Namun, bukan
berarti segala pemberitaan buruk tentang Islam yang ditayangkan media Barat
dapat diterima begitu saja. Upaya mengkritisi pemberitaan tersebut kemudian
menjadikan Islam salah paham pada Barat. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa
ada sebagian umat Islam yang sinis terhadap Barat karena identik dengan
penjajah, sekulerisasi, dan hedonisasi.
3. Barat salah paham pada Barat
Kesalahpahaman
ini dapat dilihat pada saat perang Teluk di Irak dimana Amerika tidak hanya
dikecam oleh negara berkembang, namun juga dari dunia Islam, Eropa, dan
Amerika. Ketika rudal Amerika mengenai perpustakaan, rumah sakit, dan pemukiman
sipil, publik Barat menganggapnya tidak wajar. Hal tersebut bukan karena Irak
adalah negara Islam, melainkan karena masalah kemanusiaan.
4. Islam salah paham pada Islam
Kesalahpahaman
ini biasanya diawali dari perbedaan dalam memahami dan menafsirkan teks (nash).
Kesalahpahaman antara Islam terhadap Islam dapat kita lihat pada pro-kontra
hadirnya aliran Ahmadiyah. Di beberapa tempat seperti Bogor dan Lombok,
Ahmadiyah diburu dan menjadi sasaran pengrusakan. Hal tersebut merusak citra
Islam yang damai. Perilaku itu juga yang membuat Barat menilai bahwa Islam
adalah agama yang membawa kekerasan dan memaksakan kehendak.
Antara keempat sisi kesalahpahaman tersebut, salah paham Barat terhadap Islam dan salah paham Islam terhadap Barat merupakan dua sisi kesalahpahaman yang paling tajam. Kesalahpahaman antara kedua belah kubu harus diakhiri. Barat perlu mengubah cara pandang terhadap Islam, karena perselisihan tersebut memang disebabkan oleh ketidakmampuan Barat dalam memahami keberagaman Islam. Selama Barat masih bersikap superior dan berniat menaklukkan Islam, selama itu pula perselisihan antara Barat dan islam akan terjadi.
Bagaimana Kontribusi Islam dalam Perkembangan Ilmu Komunikasi
Dalam dunia Islam sendiri, perkembangan media massa dilihat dari tradisi
tulis menulis dalam Islam yang telah ada sebelum zaman teknologi dan telah
menjadi sarana komunikasi manusia. Manusia zaman dulu sudah mulai memikirkan
bagaimana mendokumentasikan sejumlah naskah, namun karena keterbatasan sarana,
manusia zaman dulu hanya mengandalkan daya ingat sehingga sejumlah peristiwa
komunikasi penting tidak memiliki bukti autentik yang dapat
dipertanggungjawabkan. Akhirnya, sebelum teknologi percetakan ditemukan,
manusia mensiasati dokumentasi peristiwa komunikasi seperti menggunakan lontar,
dinding, tulang, batu, kulit hewan, daun, candi (sebagai relief yang
menceritakan sesuatu).
Tahapan perkembangan teknologi tulis menulis sebagai salah satu bentuk dari komunikasi dimulai dari perkembangan teknologi percetakan. Konsep dasar percetakan secara mekanis telah dikembangkan di China dan Korea pada tahun 600 SM. Sebelum perkembangan konsep dasar percetakan, sekitar 45 abad yang lalu, sebelum masa itu, dokumen penting ditumpuk dan masih sangat manual dan terbatas dan hal tersebut dikembangkan di Mesir. Kemudian, tradisi menulis mulai berkembang antara abad ke 8-9. Orang barat dan Arab mulai membuat medium untuk menulis seperti kertas. Semakin menyebar sampai masuk ke Indonesia.
Kapan
pertama kali Koran di buat setelah teknologi percetakan muncul?
Gagasan terbesar dengan cepat tersebar di benua Eropa pada abad 17 atau
sekitar tahun 1700-an. Pada abad tersebut, ditemukan koran The London Z yang
terbit pada tahun 1707. Fungsi Koran pada awalnya yaitu sebagai catatan harian
perdagangan bagi kelas saudagar seperti pengumuman tentang kedatangan dan
keberangkatan kapal, kemudian catatan kargo, harga-harga barang, berita seputar
negara asing sehingga bisa dikatakan sebagai berita bisnis. Hingga pada tahun
1883, Benjamin Day mulai menerbitkan sebuah Koran di New York bernama Sun yang dijual
di jalan-jalan dengan harga 1 sen. Dari periode 1890-1920 disebut sebagai zaman
keemasan bagi dunia percetakan. Perusahaan besar berkembang dengan pesat dan
banyak dari mereka menerbitkan Koran. Pada masa keemasan inilah banyak kalangan
komunikasi menilai bahwa awal revolusi komunikasi (menurut fitler). Kemudian
pada tahun 20-an, Koran terpaksa mendefinisikan ulang posisi mereka ditengah
masyarakat seiring bermunculan media elektronik baru yaitu radio siaran yang
jauh lebih kuat dan berpengaruh. Radio dilihat sebagai pesaing bahkan sebagian
perusahaan memboikot perusahaan yang memasang iklannya di radio, di saat
bersamaan perusahaan koran membuat sejumlah eksperimen kemasan dan ulasan yang
khusus kemudian berkembanglah majalah akhir pekan.
Berdasarkan fakta dari sejarah tersebut, jelas bahwa dalam Islam telah
memberikan kontribusi yang besar bagi sejarah tulis menulis sebagai
perkembangan dunia percetakan yang telah berkembang menjadi industry
media.
Mempertemukan Agama dan Ilmu Pengetahuan
Komunikasi profetik berusaha memberikan
kontribusi akademik untuk mengembangkan ilmu komunikasi kedepannya. Keilmuan
integralistik merupakan suatu jawaban dari paham yang memisahkan secara rinci
antara urusan agama dengan dunia atau ilmu pengetahuan. Oleh karena itu
paradigma ilmu sosial profetik yang digagas oleh Prof. Kuntowijoyo merupakan
jalan tengah dari kebingungan para filsafat barat yang terombang ambing dalam
dua kutub yaitu antara idealis dan materialistik, dimana ilmu sosial profetik
menempatkan nalar, akal, rasio, dan pengalaman empiris sebagai alat untuk
menafsirkan wahyu Tuhan atas realitas yang ada. Sehingga ilmu sosial profetik
akan menghadapkan Al-Quran pada realitas sosial. Begitu pula sebaliknya, wahyu
akan ditempatkan sebagai sumber bagi terbentuknya konstruksi sosial.
Paradigma ilmu sosial saat ini dipandang
tidak efektif karena tidak terdapat spirit transformatif keilmuan. Disisi lain,
paradigma sosial profetik sendiri bersumber dari tafsir ilmiah dari suroh Al-
Imran ayat 110. Dimana kurang lebih ayat tersebut menyerukan kepada umat
manusia untuk melakukan yang ma’ruf serta menjauhi yang munkar, serta beriman
kepada Allah swt, sesungguhnya umat Islam merupakan umat terbaik yang ada di
muka bumi. Menurut Prof. Kuntowijoyo terdapat tiga tujuan dari ilmu sosial
profetik yaitu humanisasi (memanusiakan manusia), liberasi (pembebasan manusia
dari kemiskinan, kebodohan, dan kekejaman struktural), transendensi
(mengantarkan manusia untuk kembali mengingat Tuhannya).
Terkait dengan agama dan ilmu pengetahuan, sangat kurang tepat jika ada yang mengasumsikan bahwa agama sama sekali tidak menjadi kajian dalam ilmu pengetahuan terutama yang berbasis sosial dan budaya. Karena apabila seseorang akan mengkaji tentang keilmuan sosial dan budaya maka tidak dapat lepas dari agama. Agama pada dasarnya tetap menjadi perhatian bagi kajian sosial dan budaya yang berkembang di Barat, hanya saja pemberian definisi peran agama terhadap pengembangan ilmu pengetahuan berbeda dengan konsep peran agama dalam ajaran islam. Oleh karena itu komunikasi profetik hadir untuk mencari titik temu antara hubungan agama dengan ilmu.
Polemik Fanatisme Pemikiran yang Mempengaruhi
Pertemuan Antara Agama dengan
Ilmu Pengetahuan
Seringkali
orang mengistilahkan terdapat islam fundamental dan islam liberal.
Fundamentalis atau islam fundamental merupakan suatu gerakan yang cenderung
menafsirkan teks keagamaan secara kaku dan tekstual. Sedangkan islam liberal
memiliki ciri khasanah keilmuan yang klasik tetapi dikombinasi dan dipandu dengan
pengetahuan modern. Untuk menjembatani kedua pemikiran tersebut maka perlu
diterapkannya islam yang moderat dimana umat islam menjunjung tinggi sikap
toleransi. Selain itu muncul pula islam kaffah dimana islam kaffah dianggap
sebagai islam yang murni.
Berbagai
macam polemik inilah yang mendasari bahwasannya terkait dengan pertemuan ilmu
dengan agama masih harus dijabarkan serta dibahas lebih mendalam lagi. Adapun
alternatif menurut Prof Amin Abdullah sebagai upaya untuk mempertemukan agama
dan ilmu pengetahuan tidak lain menggunakan paradigm integrasi interkoneksi.
Dimana paradigm ini dapat dijadikan sebagai penengah terhadap berbagai macam
polemik yang terjadi. Adapun tujuannya yaitu tidak lain untuk mewujudkan
humanis, liberalis, dan transcendental.
Pada
dasarnya teks suci Al-Quran tidak akan menjadi bermakna apabila tidak
dihadapkan dengan konteks perkembangan zamannya, sebaliknya konteks tidak akan
berjalan sesuai dengan peradaban kemanusiaan apabila tidak memiliki pijakan
yaitu teks suci Al-Quran. Menurut pemahaman keagamaan kontemporer, dijelaskan
bahwa agama tidak hanya berwajah tunggal yaitu wajah ketuhanan belaka, namun
juga berkaitan erat dengan persoalan sosial budaya, ekonomi politik, dan
berbagai perspektif lainnya.
Gagasan Awal Ilmu Sosial Profetik
Gagasan
awal komunikasi profetik berangkat dari ilmu sosial profetik yang digagas oleh
Prof. Kuntowijoyo. Pada awalnya berangkat dari pertanyaan mengenai apa
sebenarnya yang menjadi dasar dan sumber bagi ilmu pengetahuan. Telah kita
ketahui terdapat berbagai macam perspektif yang mendasari lahirnya ilmu
pengetahuan, adapun yang pertama yaitu paham empirisme yang mengasumsikan bahwa
ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman yang dapat memberikan inspirasi dari
lahirnya ilmu pengetahuan. Sedangkan menurut paham rasionalisme ilmu
pengetahuan diperoleh dan terinspirasi melalui adanya pemikiran.
Dengan
adanya dua perbedaan serta perdebatan tersebut maka lahirlah pendekatan atau
paham konstruktivisme, dimana paham ini mempercayai bahwa seseorang menciptakan
ilmu pengetahuan agar dapat berjalan secara pragmatis di dunia. Ilmu
pengetahuan menurut paham ini merupakan segala sesuatu yang sudah dihasilkan
oleh para ilmuan yang ada di dunia. Selanjutnya Prof. Kuntowijoyo juga
mencetuskan perspektif lain dengan menghadirkan konsep wahyu. Menurut beliau
wahyu dapat dijadikan sebagai sumber untuk perkembangan ilmu pengetahuan,
karena wahyu mengandung banyak ilmu pengetahuan. Kemudian paham ini disebut
dengan ilmu sosial profetik yang menjadi alternative antara paham empiris dan
rasional. Ilmu sosial transformative menurut Prof. Kuntowijoyo dijadikan
sebagai cikal bakal lahirnya ilmu sosial profetik. Dimana tidak hanya berhenti
untuk menjelaskan Tuhan semata, namun juga berusaha untuk
mentransformasikannya.
Fondasi Ilmu Sosial Profetik
Menurut
Prof. Kuntowijoyo istilah profetik secara estimologis merupakan suatu yang
memiliki ciri seperti nabi atau bersifat kenabian, sehingga secara sederhana
profetik berarti kenabian dalam hal ini berkaitan dengan nilai-nilai, konsep
pemikiran, perilaku. Komunikasi profetik itu sendiri mengacu kepada peristiwa
isro mi’roj Nabi Muhammad saw. Peran kenabian Rosululloh yang tidak tergoda
akan manisnya perjumpaan dengan sang kholik saat isro mi’roj, hal tersebut
dibuktikan dengan kembalinya Nabi Muhammad saw kepada umat manusia untuk
menyerukan kebenaran. Sehingga komunikasi profetik merupakan kesadaran
sosiologis para nabi untuk meningkatkan derajat kemanusiaan.
Oleh
karena itu, secara sederhana profetik dapat diartikan sebagai pendekatan etis
keilmuan yang mencoba untuk meniru tanggung jawab sosial para nabi. Profetik
sendiri menyatukan wahyu Tuhan dan akal pikiran manusia, hal tersebut dijelaskan
oleh Prof. Kuntowijoyo. Dalam hal ini beliau menggunakan landasan QS Ali Imron
ayat 110. Penggunaan ayat ini menunjukan dua hal, pertama terkait dengan
penegasan bahwa wahyu dapat dijadikan sebagai sumber pengembangan ilmu
pengetahuan. Kedua, ayat ini juga dapat dijadikan sebagai pembuktian bahwa
wahyu juga dapat dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Perspektif inilah
yang kemudian dapat dijadikan sebagai alternatif atas perdebatan antara paham
rasionalisme dan paham empirisme. Dalam ayat tersebut terdapat beberapa
kandungan atau filosofis dimana kemudian dijadikan sebagai misi komunikasi
profetik, yaitu berkaitan dengan masyarakat yang utama, kesadaran sejarah,
humanisasi (amar ma'ruf) liberasi (nahi munkar), emansipasi, serta transendensi
(tu' minu billah). Dalam hal ini Prof. Kuntowijoyo ingin meletakkan umat islam
sebagai dasar untuk membangun optimism intelektual dan ilmu pengetahuan
dikalangan intelektual islam.
Terkait dengan hal ini maka sebagai umat manusia khususnya umat islam atau umat terbaik yang telah diciptakan Allah swt, hendaknya mengikuti sunah nabi dengan cara tetap menjalankan tanggung jawab sosial, hal tersebut yang kemudian disebut dengan etika profetik untuk mewujudkan revolusi ilmu pengetahuan melalui perubahan paradigma ilmu sosial profetik.
Korelasi Surat Al-Imran ayat 110 dengan Komunikasi Profetik
Kamu (Umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Karena kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah yang munkar. Dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentunya itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. Q.S Ali Imran ayat 110.
Ilmu Sosial Profetik yg digagaskan oleh kuntowijoyo merupakan jalan tengah
yg mempertemukan ilmu pengetahuan dan agama. Kata profetik mengacu pada
peristiwa isra miraj dimana Nabi Muhammad tidak terlena dengan pertemuannya dengan Allah dan memilih untuk kembali ke dunia, memenuhi tanggung jawab sosial menyampaikan risalah kebenaran kepada umat manusia. Sehingga munculah istilah profetik yang berarti kenabian atau pendekatan yang mencoba meniru tanggung jawab sosial para Nabi. Untuk 'mengoperasikan' gagasan Ilmu Sosial Profetik itu digunakanlah surat al imran 110. Kenapa
menggunakan ayat alquran? Karena dari awal Profesor Kuntowijoyo ingin membuktikan bahwa wahyu Allah bisa dijadikan sumber ilmu pengetahuan dan sumber pengembangan ilmu
pengetahuan. Dan kenapa yang dipilih adalah surat al imran 110? Karena Profesor kuntowijoyo menilai
ada terma filosofis dalam ayat tersebut, antara lain:
• masyarakat utama/khairu ummah
• kesadaran sejarah/ukhrijat linnas
• liberasi/amar maruf
• emansipasi/nahy munkar
• transendensi/al iman billah
Dari terma filosofis tersebut, Profesor Kuntowijoyo akhirnya
menggagaskan 3 pilar Ilmu Sosial Profetik (humanisasi, liberasi, dan transendensi).
Nadia Rachma Wardana
18107030095
Komunikasi Profetik
Komentar
Posting Komentar