COPYWRITING YANG MENGGODA
OLEH BUDIMAN HAKIM
Budiman
Hakim atau yang akrab disapa Om Bud adalah seorang Creative Advisor dari
MAC909. Beliau sering disebut sebagai Maestro Periklanan Indonesia. Banyak buku-buku
yang telah ia telurkan seperti “Ngobrolin Iklan Yuk”, “Si Muka Jelek”, dan
masih banyak lagi karya-karya buku Budiman Hakim lainnya. Ia mengatakan bahwa
dengan menulis ia bisa pergi kemanapun ia inginkan dan ia ingin menghabiskan
sisa umurnya untuk memberikan banyak ilmu kepada generasi-generasi penerusnya.
Berbicara
mengenai dasar apa itu copywriting, banyak orang belum bisa membedakan atau
belum mengetahui apa itu copywriting dan lain semacamnya. Jika dilihat dari
asal kata, copy berarti teks. Sedangkan writing berarti penulisan. Ketika
disatukan menjadi terminology advertising maknanya berkembang menjadi penulisan
naskah yang mempunyai tujuan persuasif yaitu mempengaruhi konsumen supaya
membeli apa yang dijual. Copywriter artinya tentu saja adalah penulis teks
tersebut.
Perbedaan
antara copywriting dengan storytelling terletak dalam cara berkomunikasinya.
Sedangkan persamaannya yaitu sama-sama berjualan, berjualan disini dalam arti
luas. Bisa seperti penjualan produk ataupun personal branding. Dari segi
perbedaan, copywriting atau iklan selalu memperlakukan brand sebagai hero,
sedangkan dalam storytelling brand tidak berposisi sebagai hero, namun
ceritanya lah yang lebih di kedepankan. Terkadang orang suka bosan dengan iklan
karena terkesan kaku, sedangkan ketika diubah cara berkomunikasinya yaitu
dengan menggunakan storytelling orang akan merasa senang walaupun konteksnya
sama yaitu berjualan. Bagi Budiman hal ini adalah tehnik berkomunikasi yang
paling ampuh. Salah satu hal yang menarik disini adalah bahwa Tuhan juga
menggunakan cerita dalam menyampaikan pesan-pesannya dan ia percaya bahwa
dengan cara apapun yang digunakan Tuhan dalam berkomunikasi pasti itu adalah
cara yang terbaik. Seperti juga seorang pakar marketing Seth Godin, ia pernah
berkata “Marketing is no longer about the stuff that you make, but about the
stories you tell”.
Jadi,
storytelling bukanlah ilmu baru melainkan sebuah ilmu lama yang sedari kecil
bahkan ketika masih dalam kandungan sudah diberikan. Sama seperti Word of
Mouth, itu bukanlah ilmu baru seperti kebanyakan orang bilang, tetapi sejak
zaman Nabi Adam as juga sudah ada, karena setiap orang bercerita itu pasti dari
mulut ke mulut. Namun yang dilihat disini adalah bagaimana membakukannya
menjadi lebih sempurna dan terlihat seperti ilmu baru.
Jika
ditanya penting mana antara copywriting dan storytelling. Dalam konteks jualan
ada bermacam-macam cara dalam berjualan seperti hardselling, softselling dan
lain-lain. Namun intinya semua sama yaitu cara berjualan yang menunjukkan siapa
kita. Sedangkan kelebihan dari storytelling merupakan cara yang paling ampuh
dalam berjualan. Di zaman digital sekarang ini hal yang terpenting adalah share. Dari semua pendekatan komunikasi
yang ada, storytelling adalah share
terbaik karena orang akan merasa senang ketika diceritakan walau konteksnya
sama yaitu berjualan. Mereka tidak akan sadar ketika di share. Jadi masuk secara perlahan ke benak konsumen.
Storytelling
tidak hanya ada dalam bentuk teks, namun juga dalam bentuk webserries atau
iklan youtube. Contohnya seperti iklan bukalapak di youtube yang menyediakan
storytelling dengan cerita berlanjut. Untuk pendekatan komunikasi konsumen Indonesia
jika ditanya pendekatan mana yang cocok, hal tersebut sebenarnya tidak perlu
diperkarakan, karena semua bentuk pendekatan bisa digunakan. Zaman dulu radio
menjadi tempat yang paling sering digunakan untuk berjualan karena lebih murah
dibandingkan TV. Sedangkan di era digital saat ini hal tersebut tidak perlu
dipertimbangkan karena semua sarana bisa dipakai secara gratis.
Storytelling adalah ilmu yang bisa
dipelajari dan sejatinya sudah dimiliki oleh setiap orang. Sama seperti ilmu
kepenulisan, setiap orang bisa menulis tapi kebanyakan mereka tidak tahu atau
tidak peka.
Berjualan menggunakan
tehnik storytelling dapat menarik perhatian banyak orang. Membuat storytelling
yang bagus adalah dengan membuat surprise yang tinggi. Hal ini biasanya
dilakukan oleh brand-brand yang sudah mapan, mereka tidak perlu lagi
menginformasikan panjang lebar mengenai produk mereka. Semakin mapan malah
mereka seperti tidak berjualan apa-apa. Mereka hanya sekedar menyapa konsumen
dan mengajak bercengkrama dengan konsumen. Karena mereka sudah memiliki
branding yang kuat dibenak konsumen sehingga tugasnya hanya menyapa dan
menyenangkan hati konsumennya. Menjaga hubungan dengan konsumen tetap mesra.
Ada
banyak copywriting yang kelihatannya sederhana, tidak bagus, membingungkan
namun akan terasa bagus ketika bersama visualnya. Copywriting tidak bisa
berdiri sendiri, karena copywriting berada di wilayah eksekusi. Contoh iklan AC
Daicin yang memberi pesan “dinginnnya memberi kehangatan pada keluarga”. Jika
dilihat copywriting tersebut sebagai materi tersendiri itu akan membingungkan.
Namun ketika dilihat bersama visualnya hal itu menjadi jelas. Jadi kita tidak
bisa menilai seperti apa copywriting yang bagus karena ia berhubungan dengan
hal-hal lain.
Cara
menjadi seorang copywriter yang bagus yaitu harus akrab dengan kata-kata,
kata-kata harus menjadi sahabat kita. Contoh, Sarita suka telor asin, saya suka
nasi telor, Sarita dan saya harus toleransi. Jadi bisa dilihat bahwa kuncinya
adalah dengan banyak membaca dan akrab dengan banyak kata. Jangan berfikir
bagaimana membuat copywriting yang bagus tapi bagaimana menjadi copywriter yang
bagus. Karena ketika ingin menjadi copywriter yang bagus kita harus cerdas,
akrab dengan kata-kata, pintar menemukan sesuatu yang bisa menjadi sebuah ide.
Dalam membuat iklan atau
copywriting yang dipikirkan adalah brandnya, produknya, jadi bagaimana kita
mencari surprisenya dari produk yang di jual. Sedangkan storytelling yang
dibikin adalah surprisenya dulu baru dikaitkan dengan brand. Itulah kenapa
banyak orang yang senang dan mudah tertarik dengan tehnik pendekatan
storytelling.
Storytelling dan
copywriting memiliki pola pikir yang terbalik. Membuat copywriting, ide
didapatkan dari benefit suatu produk. Sedangkan storytelling surprisenya dulu
yang dicari baru dikaitkan ke produk. Jadi seakan-akan surprise itu diproduksi
oleh produk tersebut, sehingga orang menjadi jatuh cinta pada produk tersebut.
Kesimpulannya, kita
tidak bisa menilai seperti apa storytelling atau copywriting yang bagus. Tetapi
harus dikoneksikan dengan keseluruhan komunikasinya. Jadi tidak bisa dipisahkan
dari seluruh elemen seperti konsepnya, visualnya, copy nya, dan surprise nya.
Komentar
Posting Komentar